Tampilkan postingan dengan label Artikel Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Psikologi. Tampilkan semua postingan

27 Desember 2011

Akibat Broken Home

Istilah “broken home” sudah tidak asing lagi kita dengar di telinga kita, mengingat istilah ini sering menjadi salah satu penyebab seseorang kehilangan jati dirinya. Broken home merupakan suatu kondisi dimana suatu keluarga sudah tidak dapat merasakan lagi adanya suatu keharmonisan dan kehangatan keluarga yang berakibat kekacauan dan kehancuran dari keluarga itu sendiri yang dipicu oleh konflik internal. Salah satu penyebabnya adalah Keegoisan orang tua yang tidak mempedulikan bagaimana mental dan perasaan buah hatinya, disaat ia belum sanggup menerima kenyataan yang harus dihadapi karena perilaku orang tuanya.
Banyak dampak buruk yang dapat terjadi pada seorang anak yang mengalami broken home, kondisi ini dapat menimbulkan dampak negati yang sangat besar, terutama bagi mental anak-anaknya. Seorang anak dapat kehilangan jati dirinya, karena tidak snggup menerima kenyataan yang terjadi dalam keluarganya. Karena tidak ada lagi perhatian dan kasih sayang dari keluarga  yang terpecah belah, akan membuat sang anak merasa kehilangan pegangan serta panutannya dalam masa transisi menuju kedewasaan. Anak akan merasa kesepian tanpa adanya lagi kehangatan dan keharmonisan dari kedua orang tuanya.
Mentalnya akan sakit melihat kekacauan yang terjadi dalam keluarganya, sehingga ia merasa kebingungan apa yang harus ia lakukan, bagaimana dengan masa depannya jika keluarganya tercerai berai. Anak akan merasakan kehilangan kasih sayang dari salah satu orang tuanya, entah kehilangan sosok ayah atau sosok ibu.
Untuk seorang anak yang tidak kuat dalam menghadapi kenyataan ini, kemungkinan besar ia akan terjerumus dalam kehidupan yang bebas yang dekat dengan dunia hitam jika orang tuanya tidak mengawasi dan memperhatikannya. Terbatasnya kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya, sang anak akan mencari sendiri kesenangan yang dirasa mampu mengatasi rasa sakit dari perpisahan orang tuanya tanpa adanya aturan dan pengawasan dari oran tua yang menyebabkan anak terjerumus ke dunia hitam.
Dalam segi pendidikan anak pun sangat berpengaruh, kehilangan jati diri yang membuat anak stres dengan konflik intern keluarganya sehingga prestasi dalam sekolahnya pun mengalami penurunan baik akademik maupun non akademik.
Melihat kedua orang tuanya sering bertangkar dihadapannya dan hidup dalam keluarga yang tidak nyaman membuat siswa tersebut kehilangan semangat dalam hidupnya. Ia akan merasa impian dan harapan yang sudah ia rencanakan hilang begitu saja.
untuk kalian yang merasa “broken home” tetaplah berfikir positif dan semangat dalam menjadi hidup. Lanjutkan hidup dan teruskan cita-citamu !!!!

Penyebab Pelupa

Apakah anda termasuk seseorang yang mudah LUPA?? Apa anda mengetahui faktor yang menjadi penyebab diri anda menjadi seorang PELUPA?? Lupa adalah hilangnya suatu ingatan dari memory otak kita.
Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi pelupa. Menjadi pelupa akan membuat kita stres, karena dapat menghambat aktivitas/pekerjaan kita sehari-hari. Namun, stres juga dapat menjadi faktor penyebab seseorang menjadi pelupa. Berikut beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab nya: 
1.      Pengalaman Traumatik 
Pengalaman Traumatik adalah suatu pengalaman buruk yang terjadi pada seseorang yang menyebabkan orang tersebut sangat ketakutan akan suatu hal sehingga       mengalami tekanan dan stres yang berkepanjangan dan sulit untuk melupakan    kejadian tersebut (problem memory).
Hal ini juga terjadi pada sebagian orang yang telah mengalami stres berat, seperti      halnya mereka yang mengalami stres pasca pengalaman traumatik (Post Traumatic Stress Disorder/PTSD).
Namun, dalam hal ini tidak berarti bahwa setiap orang yang mengalami tekanan (stressor) akan selalu berisiko mengalami problem memori. Ada faktor-faktor lain yang ikut menentukan merosotnya daya ingat atau fungsi memori otak kita.
Trauma ini harus dihilangkan dari memory seseorang, sehingga Ia tidak terus tertekan oleh ketakutan yang berlebih pada hal yang telah dialaminya. Dengan dukungan dan bantuan dari keluarga dan orang-orang disekitarnya, akan dapat membantu ia keluar dari rasa traumanya.

2.                                     2.  Faktor Usia
Usia menjadi salah satu penyebab melemahnya/menurunnya tingkat memory otak kita, yang mengakibatkan kita menjadi seorang yang pelupa. Dengan pengaruh faktor usia, dapat dikatakan bahwa sel-sel saraf otak memang sebagian mengalami kerusakan setelah seseorang menjadi tua atau memasuki usia lebih lanjut.
Pada masa-masa itu sebagian besar orang mengalami proses degeneratif  pada sel-sel saraf otak yang menjalankan tugas menerima–menyalurkan–menyimpan informasi atau pengetahuan. Komunikasi antarsel saraf (neuron) yang terjadi pada saat kita melakukan proses mengingat atau melakukan fungsi kognitif lain telah berkurang atau terganggu setelah seseorang memasuki usia lebih lanjut.
Namun terkadang tidak hanya seseorang yang memasuki usia lebih lanjut yang mengalami hal demikian, usia yang masih relatif muda pun sering mengalami lupa.
Mengapa hal ini dapat terjadi?? Mungkin dalam hal ini, tidak separah yang dialami oleh orang yang memasuki usia lebih lanjut. Tetapi penurunan tingkat memory otak juga dapat terjadi pada seseorang berusia relatif muda, jika itu terjadi latih lah otak anda dengan berbagai kegiatan yang yang dapat menghidupkan kembali saraf-saraf otak anda.
Misalnya, dengan sering membaca akan membuat otak anda berfikir dan mencerna kearah mana intisari dari bacaan tersebut sehingga saraf-saraf otak hidup dan kembali bekerja, Aktifkan otak kiri dan kanan anda dengan musik, lakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan pada umumnya, seperti menulis dengan tangan kiri, menggosok gigi dengan tangan kiri. Hal ini dapat menyeimbangkan otak kiri dan kanan kita, dengan melakukan hal-hal yang dapat menghidupkan kembali saraf-saraf pada otak kita.
Namun, perlu kita ketahui bahwa neuron-neuron baru juga tumbuh (proses neurogenesis) sepanjang hidup kita, meski tidak sebanyak pertumbuhan pada masa kanak-kanak dan remaja. Dengan demikian, kita dapat menemukan adanya orang-orang lanjut usia yang fungsi kognitifnya tetap efektif.

3.                             3.      Mengalami gangguan Emosi dan Kognisi
Selain faktor usia yang memberikan kemungkinan penurunan fungsi memori, peristiwa-peristiwa hidup yang sangat menekan yang terus ditanggapi dengan emosi negatif merupakan pemicu terjadinya penurunan fungsi kognitif (tidak mampu memahami sesuatu dengan baik, berpikir dengan lancar, termasuk mengingat informasi dengan baik).
Depresi atau stres berat dapat menyebabkan seseorang mengalami kesulitan berkonsentrasi, berfokus pada detail, dan menyerap informasi baru. Gangguan tidur yang sering menyertai depresi jelas menyebabkan permasalahan kognitif.
Sebagian orang dapat mengatasi stres dengan aktivitas fisik seperti berolahraga. Beberapa orang lain dapat mengatasi stres dengan melakukan rileksasi atau meditasi.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal-hal tersebut yang akan menyebabkan seseorang menjadi pelupa. Merubah gaya hidup menjadi pola hidup yang lebih sehat dan dengan pikiran yang bersih jauh dari hal-hal yang negatif, bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, organisaikan hidup dan pikiran anda, buat hidup anda lebih bermakna.

Pemalu=Phobia Sosial

Remaja anda sering takut bertemu orang baru, pergi ke sekolah atau suatu tempat, atau bergabung dengan teman-temannya. Mungkin dia mengalami Fobia sosial. Jika tidak diatasi, maka bisa mengganggu perkembangan sosialnya.
Banyak anak-anak yang mempunyai sifat pemalu atau mengalami masa “canggung” saat remaja. Hal itu ternyata tidak hanya karena rasa takut berhadapan di lingkungan pergaulan. Menurut studi terbaru National Institute Of Mental Health, remaja yang menyebut diri mereka “pemalu” sebenarnya menderita yang namanya Fobia Sosial.
Beberapa pakar, bagaimanapun, masih ragu-ragu untuk mengklasifikasikan fobia sosial sebagai gangguan mental. Hal ini menunjukan bahwa “mengobati rasa malu yang normal dan menyebabkan perawatan yang berlebihan kepada remaja pada masa lalu, hanya merujuk pada seseorang yang  dianggap tertutup atau introvert.
Setelah melakukan survei lebih dari 10.000 anak-anak antara usia 13 dan 18 tahun, serta 6.000 orang tua mereka, disimpulkan bahwa fobia sosial sebenarnya merupakan gangguan psikologis yang melemahkan jiwa anak dan dapat mempengaruhi sekitar satudari sepuluh anak-anak “pemalu”.

“Remaja diminta untuk menilai rasa malu mereka disekitar orang-orang seusia yang mereka tidak kenal dengan sangat baik pada skala empat sampai satu. Sementara orang tua diminta untuk menilai anak mereka pada pertanyaan yang sama, “kata Kathleen Merikangas, penulis studi pendamping dan kepala bagian Genetic Epidemiology Research Branch di National Institute Of Mental Health.
Rasa malu sangat umum dikalangan mereka yang disurvei, yakni sekitar 47% dari anak-anak yang melaporkan bahwa mereka pemalu dan 62% orang tua yang melaporkan anak mereka pemalu. Para peneli mengungkapkan bahwa dalam subset kecil dari mereka yang mengaku pemalu, rasa malu itu hanya salah satu gejala dari masalah psikologis yang lebih besar, yaitu Fobia Sosial.
“Rasa malu adalah sifat  tempramental yang memiliki perbedaan pada tiap tahap perkembangan (anak-anak dan remaja). Orang-orang pemalu tidak selalu terganggu oleh sifat alamiah manusia yang sudah ada, “ujar Merikangas seperti dikutip dari ABC News Medical Unit. “Meskipun Fobia Sosial dapat dianggap sebagai bentuk ekstrem dari rasa malu, tidak ada tumpang tindih yang lengkap,” ujarnya.
Merikangas mengatakan, tidak seperti mereka yang hanya pemalu, orang-orang dengan fobia sosial dilemahkan oleh rasa takut saat berinteraksi sosial, gangguan dalam kemampuan mereka untuk mengerjakan tugas sekolah, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial serta hubungan keluarga. Mereka sering mengalami reaksi kecemasan yang berat selama menjalani interaksi sosial, termasuk muka memerah, berkeringat, jantung berdebar kencang, dan gemetar.
“Orang dengan fobia sosial melaporkan reaksi yang dirasakannya sungguh berlebihan dan tidak masuk akal. Dan mereka merasa menderita karena tidak bisa meredakan reaksi ketakutan dan kekhawatiran ekstrem,” katanya. Mereka yang mengalami Fobia sosial juga lebih mungkin mengalami masalah psikologis lain, seperti kecemasan berlebihan, depresi, gangguan perilaku, dan penyalahgunaan narkoba.
Namun, mereka tidak suka jika harus menjalani pengobatan psikiatris. Akibatnya, para remaja dengan gangguan tersebut tidak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. “hasil penelitian juga menunjukan bahwa mayoritasoarng muda dengan fobia sosial tidak menerima pengobatan yang efektif dan tepat, “kata Dr David Fassler, profesor klinis psikiatri di University Of Vermont College of Medicine.
Bagaimana mengidentifikasi fobia sosial ?? Dan, kapan rasa canggung terhadap lingkungan sosial dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan ??
“Meskipun penelitian berpendapat bahwa fobia sosial adalah gangguan kejiwaan yang agak terpisah  dari rasa malu yang normal, dua kepribadian ini berada pada spektrum yang sama,” sebut Dr Mark Reinecke, kepala bidang psikolog di Northwestern Memorial Hospital.
Bagaimana MENGATASINYA ??
·         SEBAIKNYA, anda tidak mengolok-olok atau membicarakan sifat pemalu anak didepannya karena anak merasa tidak diterima.
·         KONTAK MATA. Ketika berbicara dengan anak anda, minta dia selalu untuk menatap mata anda.
·         JIKA anak merasa tidak nyaman menatap tepat dimata lawan bicara, ajarkan dia untuk menatap puncak hidung diantara kedua mata orang dihadapannya.
·         MELATIH PERCAKAPAN. Buat daftar berisi kalimat pembuka percakapan yang mudah digunakan anak untuk bercakap-cakap dengan berbagai kelompok orang.
·         BERLATIH SOSIALISASI. Siapkan anak untuk menghadiri acara sosial yang akan segera diselenggarakan dengan menjelaskan latar, ekspektasi, serta para hadirin yang kira-kira datang ke acara itu.
·         KETAHUI KESUKAAN dan POTENSI ANAK. Lalu, doronglah anak untuk berani melakukan hal tertentu, melalui hobi dan potensi diri. Misalnya, anak usia suka main mobil-mobilan, ketika ditoko dia ingin mobil merah, sementara yang tersedia warna biru. (Rendra Hanggara,  Seputar Indonesia 22 Oktober 2011)

10 Oktober 2011

Mengapa Wanita Mudah Tersinggung?

Kompas.com - Fluktuasi hormon sering dituding menjadi penyebab mengapa sebagian besar wanita lebih mudah mengeluh, menggerutu dan gampang tersinggung. Padahal sifat itu sebenarnya diturunkan secara genetik.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa para wanita secara genetik memang diprogram untuk bersikap mudah marah dan agresif. Hal itu antara lain karena wanita memiliki gen reseptor serotonin, yakni yang disebut gen 2C. Kabar baiknya, tidak semua wanita mewarisi gen tersebut.
Hormon serotonin memang dikaitkan dengan perasaan marah dan agresi, baik pada manusia atau hewan. Penelitian telah menunjukkan peningkatan aktivitas serotonin berkaitan dengan berkurangnya perilaku agresif.
Sikap mudah marah tersebut ternyata menjadi salah satu penanda beberapa kondisi gangguan kesehatan, salah satunya adalah hipertensi dan penyakit jantung.
Meski kerap mudah tersinggung, keras kepala, dan gampang marah, ternyata sifat-sifat tersebut dinilai sebagai bentuk kepercayaan diri dan kebanyakan dimiliki oleh orang yang berkepribadian kuat. Karena itu, orang dengan sifat keras kepala itu dianggap menarik bagi lawan jenis.
Tetapi apakah jika sudah mewarisi gen mudah marah hal itu tidak bisa diubah? Tentu saja. Karena faktor lingkungan memiliki kemampuan untuk mengendalikan, mempengaruhi, bahkan mengubah faktor genetik.

Kebebasan Lebih Penting Dari Kekayaan


Kompas.com — Rasanya semakin banyak hal yang membuktikan kebenaran kalimat bijak yang berbunyi "uang tidak bisa membeli segalanya". Dari hasil penelitian di 63 negara terungkap bahwa orang yang memiliki kebebasan cenderung lebih sehat dan bahagia dibandingkan dengan orang yang memiliki uang banyak.
Itu sebabnya, para ahli mengatakan, untuk mengurangi gejala psikologis negatif, mungkin memberi kesempatan pada tiap individu untuk bebas mengaktualisasi dirinya jauh lebih penting. Demikian kesimpulan studi yang dimuat dalamJournal of Personality and Social Psychology.
"Temuan ini memberikan kita wawasan yang baru bahwa masalah kesehatan di tingkat masyarakat tidak selalu berkaitan dengan uang," kata peneliti dari Victoria University of Wellington di Selandia Baru.
Dalam penelitiannya, Ronald Fischer dan Diana Boer, yang berprofesi sebagai psikolog, melakukan tiga tes psikologi yang berbeda kepada 420.599 orang dari 63 negara yang berpartisipasi dalam penelitian ini.
Singkatnya, mereka menemukan bahwa kekayaan hanya berdampak pada kesenangan pribadi seseorang saja, tetapi tidak menambah kesehatan atau kebahagiaan.
"Dari hasil tes tersebut, kami mengamati sebuah temuan yang konsisten dan kuat bahwa nilai-nilai sosial dari individualisme adalah prediktor terbaik dari kesehatan," katanya.