10 Oktober 2011

Kebebasan Lebih Penting Dari Kekayaan


Kompas.com — Rasanya semakin banyak hal yang membuktikan kebenaran kalimat bijak yang berbunyi "uang tidak bisa membeli segalanya". Dari hasil penelitian di 63 negara terungkap bahwa orang yang memiliki kebebasan cenderung lebih sehat dan bahagia dibandingkan dengan orang yang memiliki uang banyak.
Itu sebabnya, para ahli mengatakan, untuk mengurangi gejala psikologis negatif, mungkin memberi kesempatan pada tiap individu untuk bebas mengaktualisasi dirinya jauh lebih penting. Demikian kesimpulan studi yang dimuat dalamJournal of Personality and Social Psychology.
"Temuan ini memberikan kita wawasan yang baru bahwa masalah kesehatan di tingkat masyarakat tidak selalu berkaitan dengan uang," kata peneliti dari Victoria University of Wellington di Selandia Baru.
Dalam penelitiannya, Ronald Fischer dan Diana Boer, yang berprofesi sebagai psikolog, melakukan tiga tes psikologi yang berbeda kepada 420.599 orang dari 63 negara yang berpartisipasi dalam penelitian ini.
Singkatnya, mereka menemukan bahwa kekayaan hanya berdampak pada kesenangan pribadi seseorang saja, tetapi tidak menambah kesehatan atau kebahagiaan.
"Dari hasil tes tersebut, kami mengamati sebuah temuan yang konsisten dan kuat bahwa nilai-nilai sosial dari individualisme adalah prediktor terbaik dari kesehatan," katanya.

Kiat Pintar Belanja Pangan Organik


Kompas.com - Sayur, buah, juga daging ayam dan telur organik, lebih sehat karena seluruh prosesnya tanpa bahan-bahan kimia, terutama pestisida. Masalahnya, harga sayur, buah, serta daging dan telur organik lebih mahal dibandingkan dengan jenis yang biasa. Untuk menyiasatinya, Nici Andronicus, pemilik Organicus Kitchen & Pantry di Australia, memberikan kiat-kiat berikut ini:
1. Coba sedikit. Untuk awal, beli pengan organik sedikit saja. Bila suka, Anda bisa membelinya dalam porsi lebih banyak saat belanja lagi.
2. Pilih yang lokal. Biasanya pangan organik impor harganya lebih mahal. Sudah banyak pertanian di beberapa daerah, misalnya Puncak, yang memasok sayur dan buah organik.
3. Beli tergantung musim. Meski pasokannya ada terus sepanjang tahun, saat sedang musim, harga buah tertentu biasanya lebih murah. Anda bisa mendapat keuntungan lebih dari sini.
4. Pertimbangkan nilai gizinya. Pilih pangan yang mengandung nilai gizi tinggi. Daripada daging misalnya, pilih lentil atau kacang panjang organik yang juga bisa menjadi sumber protein, selain lebih ekonomis.
5. Jangan lupa bawa catatan. Buat daftar kebutuhan yang harus dibeli, sehingga Anda tidak tergoda untuk membeli jenis yang tidak Anda butuhkan. (GHS/est)

20.000 Orang Hidup Di Pasung


JAKARTA, KOMPAS.com — Sekitar 20.000 penderita gangguan jiwa berat (skizofrenia) di Indonesia hidup di pasungan. Ketidaktahuan tentang penyakit jiwa, kendala ekonomi, serta mahal dan jauhnya akses kesehatan menyebabkan hanya sedikit penderita gangguan jiwa berat yang mendapat perawatan.
”Sikap agresif, emosional, paranoid, dan memusuhi orang lain yang ditunjukkan penderita gangguan jiwa berat membuat sebagian masyarakat memasung keluarga mereka yang menderita gangguan jiwa. Padahal, itu adalah gejala penyakit,” ujar Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan, Irmansyah, di Jakarta, Jumat (7/10).
Masyarakat masih menganggap gangguan jiwa berat bukanlah persoalan medik, tetapi sebagai ”penyakit” akibat kemasukan setan atau kutukan. Kondisi ini membuat upaya medik yang dilakukan justru mendapat penolakan dari keluarga.
Riset Kesehatan Dasar 2007 Kemkes menunjukkan, penderita gangguan jiwa berat di Indonesia mencapai 0,46 persen atau sekitar 1 juta orang. Prevalensi tertinggi di DKI Jakarta (2,03 persen), Aceh (1,9 persen), dan Sumatera Barat (1,6 persen).
Selain pemasungan, gangguan kesehatan jiwa menimbulkan berbagai persoalan sosial, mulai dari perceraian, bunuh diri, tawuran, kekerasan dalam rumah tangga, penggunaan narkotika dan zat adiktif, hingga pengangguran dan kemiskinan.
Fasilitas kesehatan jiwa yang ada sangat terbatas. Menurut Sekretaris Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Kuntjoro Adi Purjanto, saat ini ada 48 rumah sakit jiwa dengan 7.716 tempat tidur. Peran swasta masih kecil.
Namun, banyak rumah sakit jiwa mengajukan perubahan status menjadi rumah sakit umum. Adapun rumah sakit umum kurang memperhatikan layanan kesehatan jiwanya.
Tenaga kesehatan jiwa pun sangat terbatas. Standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, rasio ideal dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater) dengan penduduk adalah 1 : 30.000. Namun, di Indonesia, rasio psikiater dan penduduk baru mencapai 0,22 : 100.000.
”Saat ini baru ada sekitar 600 psikiater,” tutur Irmansyah.
Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengingatkan, para ahli kesehatan jiwa untuk menyiapkan rencana pengelolaan kesehatan jiwa dengan matang. Ke depan, potensi gangguan jiwa akan meningkat seiring pertumbuhan ekonomi. ”Jika terlambat mengantisipasi, butuh biaya besar untuk merawat dan mengobatinya,” ujarnya. (MZW)

9 Oktober 2011

Angin Berlalu

Berawal dari suatu siang yang cukup cerah, saat itu, aku baru sampai dari suatu perjalanan dengan abang ku. ketika baru turun dari mobil, aku langsung berjalan ke arah rumah dengan abang yang mendampingiku, abang yang tinggi dan kekar. kadang aku sangat menginginkan berbadan tinggi seperti abang ku, tapi ini lah aku, yang tak secantik para artis-artis di tivi, aku yang di berikan kesempurnaan rupa dan fisik, dan haruslah terus bersyukur atas pemberian-NYA pada ku.
Tak seperti kakak-kakak ku yang lain, abang yang satu ini selalu memanjakan aku, dia masih saja menganggap ku seperti adik kecilnya. meski begitu, aku sangat senang mempunyai banyak saudara yang berbeda karakter.
Ketika abang ku membelai dan memegangi kepala ku, tak sengaja aku melihat ke arah utara rumah ku. Aku melihat seorang pria yang memandangi kami berdua, dengan tak sadar, dia sudah lama melihat kami. Aku menegaskan penglihatan ku, takutnya anggapan ku yang salah.
Setelah lama aku tinggal di sana, aku baru melihat pria itu, yang kurus dan lumayan manis. sejak itu, aku merasa penasaran terhadap pria tersebut, hingga suatu saat aku bertanya pada salah seorang anak tentang identitasnya, tapi sayang sekali, info yang di dapatkan tak sesuai pengharapan ku.
Tak aku sadari, ternyata pintu kamarnya pas sekali dengan pintu kamarku, hingga aku bisa melihat setiap saat gerak-geriknya. Aku bisa melihat apa yang sering dia lakukan.
Hari terus berjelang, rasa penasaranku semakin membesar, aku hanya tahu dia sedang kuliah dan se-semester denga ku. Kampusnya yang tak jauh dengan kampus ku, membuatku semakin penasaran ingin mengetahui tentang dirinya.
Aku berharap suatu hari nanti, aku bisa bertemu langsung dengannya, aku hanya ingin kenal lebih lanjut dengannya, itulah yang selalu ada di dalam benak ku. Hingga suatu hari, keinginan ku terkabul. Aku bertemu dengannya di halte bis. Ketika itu aku belum tahu kalau dia adalah pria yang selalu membuat ku penasaran. Hingga akhirnya, dia yang menyapaku terlebih dahulu, hampir sama dengan para wanita lain ketika bertemu dengan seseorang yang dianggapnya special seperti apa, rasanya aku ingin sekali pergi dari halte itu karena tak bisa menahan rasa gerogi yang sedang ku alami, rasanya seperti mimpi, dia yang menghampiriku dan menyapaku duluan. Saat-saat yang selalu kutunggu-tunggu akhirnya terjadi juga, aku hanya tersipu malu menatap wajahnya yang kalm. Hingga aku cepat tersadar dan menjawab sapaannya…
“hai..! lu yang tinggal disebrang rumah gua kan,? Lu inget gua kan.?”
“hhhh..aaii….!!! oohh,, iyah,, gua tinggal di sebrang rumah lu, iya gua masih inget lu, ngomong-ngomong ngapain lu di sini..?” sahutku sambil terbata-bata.
“baguslah kalau masih inget gua, ooh,, gua lagi nunggu bis, gua mau ke kampus, lu sendiri ngapain,,?” sahutnya dengan ramah.
“ooh, mau ke kampus,?”
“iyah sama, gua juga mau ke kampus,”
“lu kuliah juga,? Di mana?” tanyanya penuh rasa penasaran.
“iyah, gw kuliah. Kampus gua gak jauh sama kampus lu, kampus kita tetanggaan”.
“ooh,, jadi kita dekatan juga?,, bagus kalau gitu”
          Hingga percakapan kami terhenti oleh kedatangan bis.
“eh, udah ada tuh bis nya, kita naik yuk..?” ajaknya pada ku.
“oh,, iyah…”
Karena penumpang yang tak sedikit, kami terpisah, posisi kami berjauhan.
Aku sangat menyesalkan kejadian itu, tapi bagaimanapun, aku sangat senang dengan adanya obrolan singkat itu.
          Yang membuat ku aneh, mengapa ketika dia di rumahnya, dia tak seramah saat bertemu di halte,? Dia masih terlihat cuek terhadap keberadaan ku,?
Apa ada yang salah denga ku?
Pertanyaan itu yang akhir-akhir ini selalu ada dalam benak ku.
          Setiap hari k uterus memandangi pintu kamarnya, tiap hari sering ku memandang ke arah rumahnya, tapi tak sebatang hidungnya pun aku temui.
Rasanya sakit yang ku alami, setelah lama terus melihat dan mengharapkan dia, sampai saat ini pun tak aku temui dia. Aku hanya menyemangati diriku untuk tak selalu mengharapkan nya lagi.
Satu kesimpulan yang ku dapatkan, dia hanyalah angin lalu yang tak mengaharpkan kehadiranku, dia hanyalah angin yang menggoyahkan hati ku sesaat.

Pendekatan Orang Tua, Kunci Utama Hilangkan Depresi Anak

JAKARTA, KOMPAS.com — Masalah depresi pada anak bukanlah masalah yang tidak dapat diatasi. Pendekatan orangtua terhadap anak adalah cara ampuh untuk mengurangi depresi pada anak. Oleh karena itu, Anda harus lebih banyak meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan-keluhan sang anak.

Pendekatan pada anak juga bisa dilakukan dengan cara menemani anak melakukan kegiatan yang disukainya, misalnya mengajak anak berjalan jalan, berenang, atau pergi ke tempat yang mereka senangi.Yang penting ciptakan suasana santai sehingga Anda bisa leluasa mendengarkan keluhan-keluhan sang anak. Dengan begitu, Anda pun akan tahu apa yang menyebabkan mereka berubah.Selain pendekatan orangtua pada anak, pengobatan pada anak yang mengalami depresi juga perlu dilakukan dengan menggandeng pihak lain, antara lain psikiater dan pihak sekolah atau guru. Pengobatan ini sering disebut sebagai psikoterapi atau terapi holistik. "Psikoterapi yang banyak dilakukan adalah berupa CBT (cognitive-behavioral therapy)," ujar Chatarina W Moeljadi, psikolog Sanggar Kreativitas Bobo.Psikolog Inna Mutmainnah menambahkan, selain keterlibatan berbagai pihak, peran keluarga dan lingkungan sangat penting dalam keberhasilan penanganan depresi pada anak.Inna mengatakan, langkah penanganan depresi pada anak harus dimulai dengan mengatasi pencetusnya. "Misalnya anak depresi karena masalah dengan orangtua, maka yang harus diperbaiki adalah pola komunikasi antara anak dan orangtua," ungkapnya.Jadi, yang diterapi tidak saja si anak, tetapi bisa jadi juga orangtuanya. Selain terapi secara psikologis, anak depresi juga bisa diberikan terapi dengan obat atau yang dikenal dengan terapi farmakologis.Dokter spesialis Anak dari Rumah Sakit Cikarang Hospital, Naomi Esthernita, mengatakan, terapi obat ini hanya digunakan sebagai penunjang psikoterapi. "Itu pun kalau dibutuhkan," ujar Naomi.Ada beberapa obat antidepresan yang bisa diberikan pada anak penderita depresi. Di antaranya adalah fluoksetin dan sertralin yang bekerja spesifik untuk menghambat ambilan serotinin. Serotinin adalah zat di dalam otak yang bisa membuat perasaan menjadi lebih tenang dan rileks.Obat litium karbonat juga bisa digunakan untuk pengobatan anak dan remaja yang mengalami depresi. "Tapi, terapi obat tidak banyak berpengaruh tanpa ada terapi psikologi," kata Inna.Bagi para orangtua, sebaiknya jangan pernah menganggap remeh depresi pada anak sebab kalau dibiarkan selama 7 sampai 12 bulan, sewaktu-waktu penyakit ini berpotensi kambuh lagi.

Peradilan Rakyat

Cerpen Putu Wijaya


Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?""Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujungtombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."Pengacara muda itu tersenyum."Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis."Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan.""Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"Pengacara tua itu tertawa."Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog.""Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran."Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang."Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti."Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?""Antara lain.""Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu."Jadi langkahku sudah benar?"Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?""Tidak! Sama sekali tidak!""Bukan juga karena uang?!""Bukan!""Lalu karena apa?"Pengacara muda itu tersenyum."Karena aku akan membelanya.""Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."Pengacara tua termenung."Apa jawabanku salah?"Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang.""Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil."Itu pujian atau peringatan?""Pujian.""Asal Anda jujur saja.""Aku jujur.""Betul?""Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi."Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!""Mereka tidak mengancam kamu?""Mengacam bagaimana?""Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."Pengacara tua itu terkejut."Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?""Tidak.""Wah! Itu tidak profesional!"Pengacara muda itu tertawa."Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!""Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"Pengacara muda itu terdiam."Bagaimana kalau dia sampai menang?""Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!""Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"Pengacara muda itu tak menjawab."Berarti ya!""Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok.""Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul.""Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan."Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional.""Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda."Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***

Cirendeu 1-3-03

6 Oktober 2011

Positive Thinking and Positive Attitude

       

Apa Sikap Positif itu?
Apa yg terjadi ketika sikap positif kita menurun? Jika hal ini terjadi, pikin, tindakan, pola dan kebiasaan hidup serta tingkah laku kita akan memaksa kita untk menggunakan dan memanfaatkan energi dan antusiasme kita dengan cara tertentu. Kita berpikir, bertindak dan melakukan sesuatu.
Jika Kita benar-benar berpikir positif, Kita akan berfokus pada segala hal yang bagus, pikiran-pikiranyang membahagiakan serta kesuksesan. Sebaiknya jika Kita berpikir negative, Kita akan berfokus pada segala hal yang buruk, pikiran-pikiran yang menyedihkan, kegagalan serta bertindak dan bertingkahlaku negative oula. Tujuan dan energy Kita tidak terfokus dan terarah pada suksesan.
Ada hubungan yang tidak terbantahkan antara kinerja personal, kepercayaan diri dan bahkan kesehatan dan pikiran-pikiran positif kita. Memantikan respon syaraf dan respon fisik, kewaspadaan mental, pelepasan energy fisik, pernafasan dan sirkulasi yang membaik bisa meningkatkan kemampuan kita. Sebaiknya, Kita akan mengubur kemampuan-kemampuan Kita sendiri jika Kita memantik segala hal tadisecara negative, di mana Kita kehilangan energi kreatifitas, motivasi, dan harga diri Kita menjadi rendah. Kita secara efektif bisa mengubah kebiasaan berfikir positif menjadi alat yang sangat kuat,tidak hanya untuk meningkatkan hidup, meraih kesiksesan dan masa depan Kita, tetapi ga kesehatan dan kesejahteraan Kita. Ada sejumlah buku, prosuk, atau bahkan kursus pelatihan bantuan diri (Self-help) yang bisa Kita baca atau Kita ikuti untk belajar lebih banyak tentang endorphin, misalnya, dan bagaimana pikiran positif bisa memotivasi Kita untuk meraih hasil-hasil yang lebih positif.

*      Sekedar Cara Lain Berpikir?

Berbagai cara dan saran praktis untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik, lebih cepat, dan leiih positif bisa diwujudkan jika Kita bersikap Opimis, mengubah wawasan kehidupan dan memotivasi diri kita sendiri dan orang lain untuk menjalani kehidupan denfan memanfaatkan berbagai kesempatan, melakukan perubahan yang diperlukan serta menjalani prosesnya dengan benar sehingga kita bisa meraih hasilnya.
Bayangkan dan pikirkan sesuatu yang tidak mungkin, seperti apa yang tidak mungkin, seperti apa yang sangat kita ingink, wujudkan keinginan itu menjadi kenyataab, yakinlah bahwa keinginan itu akan terwujud san sangat mungkin terwujud. Inilah yang di sebut hokum tarik-menarik. Hukum ini menginginkan kita akan kutipan dan referansi kitab suci.


*      Menyingkirkan pikiran-pikiran negative.

Mengharpkan hal yang terbaik, selalu dan setia waktu, walau kita mungkin bukan orang yang perfeksionis, dan raihlah keuntungan-keuntungan dari usaha nyata dan kesiksesan  kita. Gunakan energy dan sumber daya kita serta antusisme kita secara bijaksana sehingga usaha kita bisa membiat perbedaan yang memancar dari dalah ke luar, bukan dari luar ke dalam diri kita. Buatlah pilihan gaya hidup dan wawasan kehidupan dalam pola pikir kita. jadikan ini sesuatu yang memotivasi kita.
Kelilingi diri kita dengan energy positif dan orang-orang yang terus memberikan kontribusi berupa hal-hal positif pasa Kita, bukannya hal-hal negative yang menggerogoti energy positif kita. belajarlah dari kesuksesan dan kegagalan daei pengalaman masa lalu. Menyesali apa yang telah terjadi tidak dapat membantu kita melangkah lebih jauh lagi. Berhentilah menghukum diri kita sendiri karena kesalahan kita di masa lalu.
Hadapilah masa depan dan teruslah berkembang. Jadilah, tetaplah, jagalah sikap mendtal positif kita.